Playboy Insaf
Karya : Zuliati
Banyak yang bilang kalau masa
remaja itu adalah masa kejayaan. Bagaimana tidak? Remaja itu tidak bekerja,
tapi semua kebutuhan sudah dicukupi, bisa jalan-jalan tiap hari, juga bisa
kumpul bareng temen setiap saat dan setiap waktu. Tapi kesempatan itu banyak
diselewengkan oleh remaja misalnya berfoya-foya, suka tawuran, dan balap liar.
Begitu pula yang terjadi pada
si trouble maker SMA Nusa, 3 siswa yang terkenal brutal sudah
berkali-kali mereka keluar masuk ruang BK bahkan sudah seperti kewajiban setiap
minggunya hanya untuk mendapatkan petuah, wejangan, dan wanti-wanti dari para
guru. Ya, walaupun mereka juga punya kelakuan yang kurang baik bahkan lebih
cenderung buruk tapi karena wajah mereka yang bisa dibilang mendekati sempurna
sehingga banyak sekali siswi yang pada ngantri, sehingga nggak heran kalau
mereka bertiga sering ganti-ganti pacar.
Walaupun begitu bukan berarti semua
siswi tunduk sama mereka. Karena faktanya ada seorang siswi yang dari dulu
sulit ditaklukkan, namanya Kenzie. Dia memang berbeda dari yang lain, saat yang
lain harus rela ngantri-ngantri dia malah masa bodoh dan terkesan tak peduli,
ketika gadis itu didekati dia malah menghindar. Menurut Edo, Kenzie adalah
spesies langka, mungkin satu-satunya di planet ini. Namun walaupun begitu dia
tetap berusaha untuk mengejarnya, dia benar-benar penasaran. Sudah berkali-kali
Edo berusaha mencuri perhatian gadis itu, berusaha bersikap bersahabat tapi
Kenzie tetap acuh. Mungkin dia memang gadis aneh yang pernah Edo temui.
“Sampai kapan sih Kamu mau
ngejar gadis itu?” Daza bertanya pada Edo untuk kesekian kali. Pertanyaan yang
selalu dia lontarkan bila Edo terus mencoba mendekati Kenzie.
“Sudahlah Do, lagipula Kamu kan
sudah tahu kalau Kamu itu bukan tipikal pria yang dia suka,” timpal Chaka.
“Ka soal aku ini selera dia
atau bukan itu nggak penting, ingat pepatah Jawa Tresna iku jalaran saka kulina, jadi kalau aku deketin terus, lama
kelamaan pasti juga dapet. Siapa tau seleranya masih bisa dinego,” jawab Edo
ngasal.
“Ini bukan jual beli atau
obralan yang bisa dinego Sob,” ucap Daza yang tak mau ambil pusing dengan sikap
keras kepala Edo.
Namun seperti biasanya Edo tak
menanggapi apa yang diucapkan kedua sohibnya itu, dia yakin kalau dia mampu,
mampu untuk meluluhkan hati gadis es itu. Karena ada 1000 jalan untuk keluar
dari suatu masalah. Bila ia gagal melewati satu jalan, pasti masih ada 999
jalan lagi. Yah walaupun dia nggak yakin akan mencobanya satu persatu, bisa-bisa sampai tahun 2200
juga nggak akan selesai.
***
“Aaargh,” Edo mendengus kesal
sambil mengcak-acak rambutnya, selama beribu-ribu tahun dia menjalani hidupnya
baru kali ini dia merasakan penolakan. Gilanya lagi penolakan ini bukan dari
gadis yang dia cintai tapi hanya dari seorang gadis biasa. Dia nggak tahu
kenapa tiba-tiba dia merasa sebodoh ini, bodoh karena tidak bisa berbuat
apa-apa. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana jalan pikiran gadis itu. Jalan
lurus kah? Jalan berliku? Atau jalan buntu? Bisa-bisanya gadis itu sama sekali
tidak tertarik dengannya, siswa paling ngehits, paling popular,
bahkan akhir-akhir ini lagi booming. Selain memiliki wajah yang sudah
tidak diragukan lagi, Edo adalah ketua OSIS sekaligus kapten tim basket Nusa
yang mempunyai prestasi membanggakan karena sudah berpuluh-puluh kali
menyumbangkan piala untuk sekolahnya itu.
“Hai Sob,” Daza menepuk bahu
Edo dan langsung duduk di sampingnya.
“Ketok pintu dulu kan bisa,
kebiasaan banget,” ucap Edo dengan wajah kusem.
“Sensi banget sih, lagi dapet
ya?” sindir Chaka.
“Laki-laki tulen nih,” jawab
Edo sambil memperlihatkan otot-otot lengannya.
“Terus kenapa? Mikirin gadis
kursi roda itu?” tebak
Daza yang disambut dengan anggukan mantap Edo.
“Aku punya ide, gimana kalau
akhir semester ini kita ngadain acara
liburan 1 kelas? Kan kamu bisa gunain kesempatan ini buat nembak Kenzie,” usul
Daza.
“Boleh juga tuh, tapi kemana?
Ke pantai udah biasa, ke danau udah nggak jaman, ke hutan serem,” ucap Edo
bergidik ngeri membayangkan keadaan hutan yang identik dengan hal-hal yang menyeramkan.
“Naik gunung aja, ini
satu-satunya kesempatan emas, kaki Kenzie kan sakit tuh, jadi kamu bisa bantuin
dia Sob, modus dikit,” usul Daza sambil menaik turunkan alisnya, Edo Cuma bisa
senyum-senyum membayangkan ide-ide buayanya nanti.
“Itu ide paling top yang pernah
aku dengar, tambah serunya lagi lagi kita naik Gunung Krakatau,” usul Chaka ngasal.
“Gunung Krakatau? Kenapa nggak
pilih Gunung Merapi, Gunung Bromo, Gunung Tambora, atau gunung lain yang lebih romantic,”
tanya Edo dengan wajah polosnya.
“Ini nih kalau cowok mikirnya
cetek banget, kan kamu tahu siapa yang mau kamu tembak nanti, seorang Mackenzie
Adznia Fernanda, cewek yang udah beribu-ribu kali nolak kamu, jadi gini kalau
misalnya lagi-lagi nasib kamu sama, kamu bisa langsung loncat ke laut Do, buat
ngilangin tengsin,” ucap Chaka sambil
ngakak.
* * *
Siang ini seperti biasanya
Kenzie termenung di taman belakang sekolah, bukan karena dia tidak mempunyai
teman, tapi karena setelah kecelakaan bulan yang lalu dia jadi lebih sering
menghabiskan waktu senggangnya untuk menyendiri.
Masih segar di dalam ingatannya
jurang-jurang dalam yang sangat menyeramkan, semak belukar yang mengerikan,
batu-batu besar yang membiarkannya jatuh terpelanting tak berdaya, juga
pohon-pohon raksasa yang menjadi saksi nyata kejadian naas itu. Air mata itu
pun perlahan membasahi pipi Kenzie, matanya terpejam dan nafasnya tak
terkendali mengingat kejadian itu. Kejadian yang menyebabkan dia harus
menjalani hari-harinya di kursi roda, dan memaksanya untuk mengubur dalam-dalam
impiannya selama ini.
Tiba-tiba gadis itu dikejutkan
dengan kehadiran seseorang, seseorang yang akhir-akhir ini mengusik
kehidupannya. Bukan karena diteror atau ditodong senjata api, tetapi entah
mengapa orang itu selalu berusaha untuk mendekatinya. Cepat-cepat ia menghapus
air mata itu, dia tidak mau ada orang lain yang melihatnya menagis, dia tidak
mau dianggap lemah.
“Hai,” sapa Edo dengan senyuman
mengembang dibibirnya, namun Kenzie sama sekali tidak memberi respon
sedikitpun, matanya tetap menerawang jauh.
“Hm, bisa kita bicara berdua?” tanya Edo yang berusaha mencairkan
suasana, Kenzie pun mendongakkan kepalanya kearah samping untuk melihat wajah
Edo, lalu buru-buru ia mengalihkan pandangannya lagi tanpa mengucap sepatah
kata pun.
“Oke, aku minta maaf kalau aku
udah ganggu Kamu, tapi aku cuma mau ngasih tahu Kamu kalau aku, Daza, sama
Chaka mau ngadain acara liburan ke villa milik keluarga Daza. Acara ini untuk 1
kelas, jadi aku harap Kamu ikut berpartisipasi dalam acara ini,” ucap Edo penuh
harap.
Ya, setelah perundingan
tertutup yang dilakukan di rumah Edo kemarin, akhirnya mereka memutuskan untuk
liburan ke villa milik keluarga Daza,
“Aku nggak bisa,” jawab Kenzie
singkat.
“Kenapa? Kita bisa sama-sama
cari suasana baru, supaya pikiran fresh dan seger,” ucap Edo tenang.
“Maksud kamu tuh apa sih? Kamu
mau ngeledek aku? Inget ya kalau mau ngomong itu dipikir dulu. Karena nggak
semua orang memahami apa yang kita maksud,” ucap Kenzie tegas sambil bersiap
pergi meninggalkan Edo, tapi tenaganya kalah kuat karena Edo sudah menahannya
terlebih dahulu.
“Oke aku minta maaf, tapi aku
benar-benar nggak ada maksud apa-apa, aku cuma pengen Kamu ikut acara ini, itu
aja,” Edo benar-benar merasa nggak enak.
“Aku sudah bilang, aku nggak
bisa, cara hidup aku sudah
berubah, Kamu liat kan kaki aku? aku
cuma akan bikin repot kalian aja. Nggak bisa kesana nggak bisa ke sini, harus
minta bantuan sana minta bantuan sini, gerakan aku sangat terbatas.” Ucap Kenzie.
“Zie perubahan itu memang tidak
selalu menyenangkan, kadang menyakitkan dan sulit diterima. Tapi aku janji, aku
akan bantuin kamu,” ucap Edo tulus.
“Apa? Janji? Jangan ngucapin
janji jika kamu nggak bisa menepati, karena hal itu hanya akan membuat
seseorang terluka dan sakit hati,” ucap Kenzie sambil tersenyum sinis, dia
teringat kedua sahabatnya yang menjadi korban Edo.
“Zie, kenapa sih Kamu itu benci
banget sama aku? Aku salah apa sama Kamu,” tanya Edo yang benar-benar dibuat
pusing.
“Kamu pasti tahu apa alasan
aku,” Kenzie langsung pergi meninggalkan Edo.
Marah, kesal, jengkel, semua
jadi satu, Edo benar-benar nggak tahu kenapa tiba-tiba dia menjadi serba salah
gini. Perasaannya benar-benar aneh, sebelum-sebelumnya dia tak pernah merasakan
hal segila ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa gadis itu selalu
membayang-bayanginya. Apakah dia merasa kasihan dengan keadaan Kenzie? Tidak!
Itu tidak mungkin, untuk apa dia mengasihani gadis itu. Lalu apakah ini cinta?
Huft, kenapa tiba-tiba dia terpikir akan cinta, bahkan sampai setua ini Edo
tidak tahu apa arti cinta yang sesungguhnya. Apa benar pada saat kita menemukan
cinta pertama, yang biasanya tampak adalah adanya sedikit kebodohan dan muncul
keingintahuan?
* * *
Matahari sudah bangun dan mulai
mengintip bumi. Begitu pula dengan Edo yang tersenyum mantap sambil
mengemudikan mobilnya menuju rumah Daza. Dan betapa girangnya dia saat melihat
Kenzie ada diantara teman-temannya yang lain. Edo jadi teringat perjuangannya 2
hari yang lalu saat memohon-mohon pada teman-temannya untuk ngebujuk Kenzie
agar mau ikut acara ini. Karena dia tahu berapa kalipun dia membujuk, pasti
hasilnya akan nihil.
Beruntung! Mungkin itu kata
yang tepat untuk menggambarkan keadaan Edo saat ini. Bagaimana tidak? Akhirnya
dia bisa 1 mobil dengan gadis idamannya itu, karena teman-teman yang lain sudah
berangkat dengan mobil masing-masing. Sejak kejadian beberapa hari yang lalu
juga hasil observasi yang dia lakukan pada kakaknya, mama, papa, nenek, kakek,
paman, tante, sohib, dan hasil searching
di internet, akhirnya Edo menarik kesimpulan bahwa dia benar-benar jatuh cinta
untuk yang pertama kalinya.
Tanpa tersadar Edo tersenyum
melihat gadis yang sedang melihat gunung yang jauh di sana lewat kaca mobil.
Sejak tadi dia memang selalu curi-curi pandang lewat kaca depan. Dia merasa
tenang dan nyaman melihat sinar mata sejuk itu. Tanpa sengaja pandangan mereka
beradu, tapi buru-buru gadis itu segera mengalihkan pandangannya untuk melihat
panorama indah ciptaan Tuhan. Keadaan di dalam mobil sunyi, semuanya sibuk
dengan kegiatan masing-masing. Namun berubah seketika saat mobil melewati jalan
berliku dengan tikungan tajam, apalagi jalannya terkesan sepi tanpa ada
kendaraan yang lalu lalang, menambah kesan horor. Tiba-tiba mereka dikejutkan
dengan segerombolan geng motor yang melaju dari arah berlawanan, sehingga
memaksa Edo untuk menghentikan mobilnya.
“Kalian bertiga tunggu di sini,
biar aku, Daza, sama Chaka yang hadepin mereka,” ucap Edo kepada Kenzie dan si
kembar Zelda dan Melda.
“Kamu gila? Kalian cuma
bertiga, sedangkan mereka hampir 10 orang, kalian nggak punya kekuatan super,
kalian nggak bisa berubah jadi harimau, serigala, atau singa yang bisa buat
musuh kewalahan, mustahil kalian bisa kembali utuh,” ucap Kenzie dengan nada
cemas.
“Kita semua sudah kepalang
tanggung, satu-satunya cara yang bisa dilakukan ya cuma ngeladenin mereka,”
ucap Daza.
“Satu-satunya cara? Kita masih
bisa puter balik kan? Itu lebih aman buat kita,” tegas Kenzie.
“Itu nggak mungkin, mereka bisa
ngejudge kita pecundang, nggak gentle. Kamu tahukan kita ini cowok,
nggak mungkin mundur gitu aja,” ucap Edo keras kepala.
“Gentle? Apa kegentlean
seorang pria itu cuma diukur dari kemampuanya buat berkelahi dan tawuran? Inget
Do menyesal itu selalu di belakang, bila sesuatu sudah terjadi kita nggak bisa
kembali ke masa lalu walaupun sedetik saja, jangan lewatkan saat terindah hanya
untuk hal-hal sepele yang nggak penting,” Kenzie tak tahu kenapa bisa-bisanya
dia mengucapkan kata-kata seperti itu, Edo pun merasa ada sesuatu di balik
ucapan Kenzie, tapi egonya lebih besar sehingga dia memilih meladeni geng motor
itu.
Kenzie benar-benar cemas,
perasaannya nggak tenang. Tapi akhirnya dia bisa keluar dari mobil setelah
membujuk kedua sahabatnya itu, kini dia bisa keluar dari mobil setelah membujuk
kedua sahabatnya itu, dia bisa melihat dengan jelas kalau Edo dan kawan-kawan
sudah KO, seandainya ini adalah perlombaan bela diri mungkin peluit sudah
ditiup wasit dari tadi. Tak sampai hati dia melihat Edo yang tersiksa seperti
itu.
“Zie Kamu jangan kesana,” teriak Zelda saat
Kenzie mendekati Edo, dia tak bisa membiarkan pria yang sudah tak berdaya itu
terus-terusan mendapat bogem mentah dari 3 orang gila itu.
“Edo awas,” teriak Kenzie saat
melihat salah satu anggota geng motor itu hendak melayangkan benda tumpul ke
arah kepala Edo.
Dugh
Satu pukulan saja sudah mampu
membuat gadis itu jatuh tersungkur ke tanah, kursi rodanya mengguling entah
kemana. Darah segar keluar dari telinganya, buru-buru geng motor itu segera
melarikan diri.
“Kenzie,” teriak Edo histeris,
tak kuasa dia melihat gadis itu terkulai lemah di depan mata kepalanya sendiri,
tanpa sadar dia meneteskan air matanya, di mana ini adalah awal sejarah dia
menangis untuk seorang gadis yang bukan keluarganya.
“Do, lebih baik kita bawa
Kenzie ke rumah sakit sekarang,” ucap Chaka, Edo mengangguk dan segera membopong
tubuh tak berdaya itu.
* * *
Hampir 1,5 jam mereka menunggui
Kenzie yang sedang ditangani dokter di ruang ICU. Tangis Edo sudah pecah dari
tadi, berkali-kali dia memukul dinding untuk melampiskan amarahnya. Dadanya
sesak bergemuruh, dia takut akan terjadi sesuatu hal fatal
“Aargh,” ini adalah pukulan
kesekian kali, dia tak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Perasaannya
benar-benar kalut.
Akhirnya dokter itu keluar dari
ruang ICU, beliau memberi tahu keadaan pasiennya saat ini.
“Apa,” Zelda dan Melda tak
kuasa mendengar berita itu.
Cepat-cepat Edo berlari
menghampiri gadis yang selama ini selalu mengisi pikirannya. Namun kini gadus itu sudak tergolek tak bernyawa di atas
ranjang rumah sakit. Tak ada sepatah katapun yang bisa Edo ucapkan selain menggenggam jari jemari
gadis itu. Terngiang jelas ucapan gadis itu beberapa jam yang lalu.
“Inget Do, menyesal itu
selalu di belakangan, bila sesuatu terjadi kita nggak bisa kembali ke masa lalu
walaupun sedetik saja, jangan lewatkan saat-saat terindah hanya untuk hal-hal
sepele yang nggak penting,”
“Bodoh, kenapa aku nggak
dengerin kata-kata Kamu? Kalau aku dengerin Kamu pasti ini semua nggak akan
terjadi,” teriak Edo dengan suara seraknya.
“Kenzie, aku mohon Kamu bangun.
Aku janji aku akan berubah, aku akan nepati janji aku Zie,” Edo menatap gadis
itu dengan penuh harap.
Air mata begitu deras mengalir
di pipi Edo, berkali-kali dia memaki dirinya sendiri, dia merasakan penyesalan
yang teramat besar. Kini gadis itu sudah pergi, pergi jauh meninggalkan dirinya,
bahkan karena sudah teramat
jauh kini dia sudah tidak bisa merengkuh
gadis itu lagi. Dia pasti akan
merindukan sinar mata sejuk itu, kata-kata yang begitu polos, dan
nasehat-nasehat kecil yang selama ini selalu dia hiraukan begitu saja. Dia
sadar bahwa setelah kehilangan, barulah terasa bahwa tidak semua orang seperti
dia. Dan kini Edo berjanji, berjanji akan berubah, berubah untuk lebih baik.
Dia ingin gadis itu selalu tersenyum di atas sana.
Selesai