Minggu, 03 April 2016

Playboy Insaf



Playboy Insaf
Karya : Zuliati


Banyak yang bilang kalau masa remaja itu adalah masa kejayaan. Bagaimana tidak? Remaja itu tidak bekerja, tapi semua kebutuhan sudah dicukupi, bisa jalan-jalan tiap hari, juga bisa kumpul bareng temen setiap saat dan setiap waktu. Tapi kesempatan itu banyak diselewengkan oleh remaja misalnya berfoya-foya, suka tawuran, dan balap liar.
Begitu pula yang terjadi pada si trouble maker SMA Nusa, 3 siswa yang terkenal brutal sudah berkali-kali mereka keluar masuk ruang BK bahkan sudah seperti kewajiban setiap minggunya hanya untuk mendapatkan petuah, wejangan, dan wanti-wanti dari para guru. Ya, walaupun mereka juga punya kelakuan yang kurang baik bahkan lebih cenderung buruk tapi karena wajah mereka yang bisa dibilang mendekati sempurna sehingga banyak sekali siswi yang pada ngantri, sehingga nggak heran kalau mereka bertiga sering ganti-ganti pacar.
Walaupun begitu bukan berarti semua siswi tunduk sama mereka. Karena faktanya ada seorang siswi yang dari dulu sulit ditaklukkan, namanya Kenzie. Dia memang berbeda dari yang lain, saat yang lain harus rela ngantri-ngantri dia malah masa bodoh dan terkesan tak peduli, ketika gadis itu didekati dia malah menghindar. Menurut Edo, Kenzie adalah spesies langka, mungkin satu-satunya di planet ini. Namun walaupun begitu dia tetap berusaha untuk mengejarnya, dia benar-benar penasaran. Sudah berkali-kali Edo berusaha mencuri perhatian gadis itu, berusaha bersikap bersahabat tapi Kenzie tetap acuh. Mungkin dia memang gadis aneh yang pernah Edo temui.
“Sampai kapan sih Kamu mau ngejar gadis itu?” Daza bertanya pada Edo untuk kesekian kali. Pertanyaan yang selalu dia lontarkan bila Edo terus mencoba mendekati Kenzie.
“Sudahlah Do, lagipula Kamu kan sudah tahu kalau Kamu itu bukan tipikal pria yang dia suka,” timpal Chaka.
“Ka soal aku ini selera dia atau bukan itu nggak penting, ingat pepatah Jawa Tresna iku jalaran saka kulina, jadi kalau aku deketin terus, lama kelamaan pasti juga dapet. Siapa tau seleranya masih bisa dinego,” jawab Edo ngasal.
“Ini bukan jual beli atau obralan yang bisa dinego Sob,” ucap Daza yang tak mau ambil pusing dengan sikap keras kepala Edo.
Namun seperti biasanya Edo tak menanggapi apa yang diucapkan kedua sohibnya itu, dia yakin kalau dia mampu, mampu untuk meluluhkan hati gadis es itu. Karena ada 1000 jalan untuk keluar dari suatu masalah. Bila ia gagal melewati satu jalan, pasti masih ada 999 jalan lagi. Yah walaupun dia nggak yakin akan mencobanya satu persatu, bisa-bisa sampai tahun 2200 juga nggak akan selesai.
***
“Aaargh,” Edo mendengus kesal sambil mengcak-acak rambutnya, selama beribu-ribu tahun dia menjalani hidupnya baru kali ini dia merasakan penolakan. Gilanya lagi penolakan ini bukan dari gadis yang dia cintai tapi hanya dari seorang gadis biasa. Dia nggak tahu kenapa tiba-tiba dia merasa sebodoh ini, bodoh karena tidak bisa berbuat apa-apa. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana jalan pikiran gadis itu. Jalan lurus kah? Jalan berliku? Atau jalan buntu? Bisa-bisanya gadis itu sama sekali tidak tertarik dengannya, siswa paling ngehits, paling popular, bahkan akhir-akhir ini lagi booming. Selain memiliki wajah yang sudah tidak diragukan lagi, Edo adalah ketua OSIS sekaligus kapten tim basket Nusa yang mempunyai prestasi membanggakan karena sudah berpuluh-puluh kali menyumbangkan piala untuk sekolahnya itu.
“Hai Sob,” Daza menepuk bahu Edo dan langsung duduk di sampingnya.
“Ketok pintu dulu kan bisa, kebiasaan banget,” ucap Edo dengan wajah kusem.
“Sensi banget sih, lagi dapet ya?” sindir Chaka.
“Laki-laki tulen nih,” jawab Edo sambil memperlihatkan otot-otot lengannya.
“Terus kenapa? Mikirin gadis kursi roda itu?” tebak Daza yang disambut dengan anggukan mantap Edo.
“Aku punya ide, gimana kalau akhir  semester ini kita ngadain acara liburan 1 kelas? Kan kamu bisa gunain kesempatan ini buat nembak Kenzie,” usul Daza.
“Boleh juga tuh, tapi kemana? Ke pantai udah biasa, ke danau udah nggak jaman, ke hutan serem,” ucap Edo bergidik ngeri membayangkan keadaan hutan yang identik dengan hal-hal yang menyeramkan.
“Naik gunung aja, ini satu-satunya kesempatan emas, kaki Kenzie kan sakit tuh, jadi kamu bisa bantuin dia Sob, modus dikit,” usul Daza sambil menaik turunkan alisnya, Edo Cuma bisa senyum-senyum membayangkan ide-ide buayanya nanti.
“Itu ide paling top yang pernah aku dengar, tambah serunya lagi lagi kita naik Gunung Krakatau,” usul Chaka ngasal.
“Gunung Krakatau? Kenapa nggak pilih Gunung Merapi, Gunung Bromo, Gunung Tambora, atau gunung lain yang lebih romantic,” tanya Edo dengan wajah polosnya.
“Ini nih kalau cowok mikirnya cetek banget, kan kamu tahu siapa yang mau kamu tembak nanti, seorang Mackenzie Adznia Fernanda, cewek yang udah beribu-ribu kali nolak kamu, jadi gini kalau misalnya lagi-lagi nasib kamu sama, kamu bisa langsung loncat ke laut Do, buat ngilangin tengsin,” ucap Chaka sambil ngakak.
* * *
Siang ini seperti biasanya Kenzie termenung di taman belakang sekolah, bukan karena dia tidak mempunyai teman, tapi karena setelah kecelakaan bulan yang lalu dia jadi lebih sering menghabiskan waktu senggangnya untuk menyendiri.
Masih segar di dalam ingatannya jurang-jurang dalam yang sangat menyeramkan, semak belukar yang mengerikan, batu-batu besar yang membiarkannya jatuh terpelanting tak berdaya, juga pohon-pohon raksasa yang menjadi saksi nyata kejadian naas itu. Air mata itu pun perlahan membasahi pipi Kenzie, matanya terpejam dan nafasnya tak terkendali mengingat kejadian itu. Kejadian yang menyebabkan dia harus menjalani hari-harinya di kursi roda, dan memaksanya untuk mengubur dalam-dalam impiannya selama ini.
Tiba-tiba gadis itu dikejutkan dengan kehadiran seseorang, seseorang yang akhir-akhir ini mengusik kehidupannya. Bukan karena diteror atau ditodong senjata api, tetapi entah mengapa orang itu selalu berusaha untuk mendekatinya. Cepat-cepat ia menghapus air mata itu, dia tidak mau ada orang lain yang melihatnya menagis, dia tidak mau dianggap lemah.
“Hai,” sapa Edo dengan senyuman mengembang dibibirnya, namun Kenzie sama sekali tidak memberi respon sedikitpun, matanya tetap menerawang jauh.
“Hm, bisa kita bicara berdua?” tanya Edo yang berusaha mencairkan suasana, Kenzie pun mendongakkan kepalanya kearah samping untuk melihat wajah Edo, lalu buru-buru ia mengalihkan pandangannya lagi tanpa mengucap sepatah kata pun.
“Oke, aku minta maaf kalau aku udah ganggu Kamu, tapi aku cuma mau ngasih tahu Kamu kalau aku, Daza, sama Chaka mau ngadain acara liburan ke villa milik keluarga Daza. Acara ini untuk 1 kelas, jadi aku harap Kamu ikut berpartisipasi dalam acara ini,” ucap Edo penuh harap.
Ya, setelah perundingan tertutup yang dilakukan di rumah Edo kemarin, akhirnya mereka memutuskan untuk liburan ke villa milik keluarga Daza,
“Aku nggak bisa,” jawab Kenzie singkat.
“Kenapa? Kita bisa sama-sama cari suasana baru, supaya pikiran fresh dan seger,” ucap Edo tenang.
“Maksud kamu tuh apa sih? Kamu mau ngeledek aku? Inget ya kalau mau ngomong itu dipikir dulu. Karena nggak semua orang memahami apa yang kita maksud,” ucap Kenzie tegas sambil bersiap pergi meninggalkan Edo, tapi tenaganya kalah kuat karena Edo sudah menahannya terlebih dahulu.
“Oke aku minta maaf, tapi aku benar-benar nggak ada maksud apa-apa, aku cuma pengen Kamu ikut acara ini, itu aja,” Edo benar-benar merasa nggak enak.
“Aku sudah bilang, aku nggak bisa, cara hidup aku sudah berubah, Kamu liat kan kaki aku? aku cuma akan bikin repot kalian aja. Nggak bisa kesana nggak bisa ke sini, harus minta bantuan sana minta bantuan sini, gerakan aku sangat terbatas.” Ucap Kenzie.
“Zie perubahan itu memang tidak selalu menyenangkan, kadang menyakitkan dan sulit diterima. Tapi aku janji, aku akan bantuin kamu,” ucap Edo tulus.
“Apa? Janji? Jangan ngucapin janji jika kamu nggak bisa menepati, karena hal itu hanya akan membuat seseorang terluka dan sakit hati,” ucap Kenzie sambil tersenyum sinis, dia teringat kedua sahabatnya yang menjadi korban Edo.
“Zie, kenapa sih Kamu itu benci banget sama aku? Aku salah apa sama Kamu,” tanya Edo yang benar-benar dibuat pusing.
“Kamu pasti tahu apa alasan aku,” Kenzie langsung pergi meninggalkan Edo.
Marah, kesal, jengkel, semua jadi satu, Edo benar-benar nggak tahu kenapa tiba-tiba dia menjadi serba salah gini. Perasaannya benar-benar aneh, sebelum-sebelumnya dia tak pernah merasakan hal segila ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa gadis itu selalu membayang-bayanginya. Apakah dia merasa kasihan dengan keadaan Kenzie? Tidak! Itu tidak mungkin, untuk apa dia mengasihani gadis itu. Lalu apakah ini cinta? Huft, kenapa tiba-tiba dia terpikir akan cinta, bahkan sampai setua ini Edo tidak tahu apa arti cinta yang sesungguhnya. Apa benar pada saat kita menemukan cinta pertama, yang biasanya tampak adalah adanya sedikit kebodohan dan muncul keingintahuan?
* * *
Matahari sudah bangun dan mulai mengintip bumi. Begitu pula dengan Edo yang tersenyum mantap sambil mengemudikan mobilnya menuju rumah Daza. Dan betapa girangnya dia saat melihat Kenzie ada diantara teman-temannya yang lain. Edo jadi teringat perjuangannya 2 hari yang lalu saat memohon-mohon pada teman-temannya untuk ngebujuk Kenzie agar mau ikut acara ini. Karena dia tahu berapa kalipun dia membujuk, pasti hasilnya akan nihil.
Beruntung! Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan Edo saat ini. Bagaimana tidak? Akhirnya dia bisa 1 mobil dengan gadis idamannya itu, karena teman-teman yang lain sudah berangkat dengan mobil masing-masing. Sejak kejadian beberapa hari yang lalu juga hasil observasi yang dia lakukan pada kakaknya, mama, papa, nenek, kakek, paman, tante, sohib, dan hasil searching di internet, akhirnya Edo menarik kesimpulan bahwa dia benar-benar jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.
Tanpa tersadar Edo tersenyum melihat gadis yang sedang melihat gunung yang jauh di sana lewat kaca mobil. Sejak tadi dia memang selalu curi-curi pandang lewat kaca depan. Dia merasa tenang dan nyaman melihat sinar mata sejuk itu. Tanpa sengaja pandangan mereka beradu, tapi buru-buru gadis itu segera mengalihkan pandangannya untuk melihat panorama indah ciptaan Tuhan. Keadaan di dalam mobil sunyi, semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Namun berubah seketika saat mobil melewati jalan berliku dengan tikungan tajam, apalagi jalannya terkesan sepi tanpa ada kendaraan yang lalu lalang, menambah kesan horor. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan segerombolan geng motor yang melaju dari arah berlawanan, sehingga memaksa Edo untuk menghentikan mobilnya.
“Kalian bertiga tunggu di sini, biar aku, Daza, sama Chaka yang hadepin mereka,” ucap Edo kepada Kenzie dan si kembar Zelda dan Melda.
“Kamu gila? Kalian cuma bertiga, sedangkan mereka hampir 10 orang, kalian nggak punya kekuatan super, kalian nggak bisa berubah jadi harimau, serigala, atau singa yang bisa buat musuh kewalahan, mustahil kalian bisa kembali utuh,” ucap Kenzie dengan nada cemas.
“Kita semua sudah kepalang tanggung, satu-satunya cara yang bisa dilakukan ya cuma ngeladenin mereka,” ucap Daza.
“Satu-satunya cara? Kita masih bisa puter balik kan? Itu lebih aman buat kita,” tegas Kenzie.
“Itu nggak mungkin, mereka bisa ngejudge kita pecundang, nggak gentle. Kamu tahukan kita ini cowok, nggak mungkin mundur gitu aja,” ucap Edo keras kepala.
Gentle? Apa kegentlean seorang pria itu cuma diukur dari kemampuanya buat berkelahi dan tawuran? Inget Do menyesal itu selalu di belakang, bila sesuatu sudah terjadi kita nggak bisa kembali ke masa lalu walaupun sedetik saja, jangan lewatkan saat terindah hanya untuk hal-hal sepele yang nggak penting,” Kenzie tak tahu kenapa bisa-bisanya dia mengucapkan kata-kata seperti itu, Edo pun merasa ada sesuatu di balik ucapan Kenzie, tapi egonya lebih besar sehingga dia memilih meladeni geng motor itu.
Kenzie benar-benar cemas, perasaannya nggak tenang. Tapi akhirnya dia bisa keluar dari mobil setelah membujuk kedua sahabatnya itu, kini dia bisa keluar dari mobil setelah membujuk kedua sahabatnya itu, dia bisa melihat dengan jelas kalau Edo dan kawan-kawan sudah KO, seandainya ini adalah perlombaan bela diri mungkin peluit sudah ditiup wasit dari tadi. Tak sampai hati dia melihat Edo yang tersiksa seperti itu.
“Zie Kamu jangan kesana,” teriak Zelda saat Kenzie mendekati Edo, dia tak bisa membiarkan pria yang sudah tak berdaya itu terus-terusan mendapat bogem mentah dari 3 orang gila itu.
“Edo awas,” teriak Kenzie saat melihat salah satu anggota geng motor itu hendak melayangkan benda tumpul ke arah kepala Edo.
Dugh
Satu pukulan saja sudah mampu membuat gadis itu jatuh tersungkur ke tanah, kursi rodanya mengguling entah kemana. Darah segar keluar dari telinganya, buru-buru geng motor itu segera melarikan diri.
“Kenzie,” teriak Edo histeris, tak kuasa dia melihat gadis itu terkulai lemah di depan mata kepalanya sendiri, tanpa sadar dia meneteskan air matanya, di mana ini adalah awal sejarah dia menangis untuk seorang gadis yang bukan keluarganya.
“Do, lebih baik kita bawa Kenzie ke rumah sakit sekarang,” ucap Chaka, Edo mengangguk dan segera membopong tubuh tak berdaya itu.
* * *
Hampir 1,5 jam mereka menunggui Kenzie yang sedang ditangani dokter di ruang ICU. Tangis Edo sudah pecah dari tadi, berkali-kali dia memukul dinding untuk melampiskan amarahnya. Dadanya sesak bergemuruh, dia takut akan terjadi sesuatu hal fatal
“Aargh,” ini adalah pukulan kesekian kali, dia tak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Perasaannya benar-benar kalut.
Akhirnya dokter itu keluar dari ruang ICU, beliau memberi tahu keadaan pasiennya saat ini.
“Apa,” Zelda dan Melda tak kuasa mendengar berita itu.
Cepat-cepat Edo berlari menghampiri gadis yang selama ini selalu mengisi pikirannya. Namun kini gadus itu sudak tergolek tak bernyawa di atas ranjang rumah sakit. Tak ada sepatah katapun yang bisa Edo ucapkan selain menggenggam jari jemari gadis itu. Terngiang jelas ucapan gadis itu beberapa jam yang lalu.
“Inget Do, menyesal itu selalu di belakangan, bila sesuatu terjadi kita nggak bisa kembali ke masa lalu walaupun sedetik saja, jangan lewatkan saat-saat terindah hanya untuk hal-hal sepele yang nggak penting,”
“Bodoh, kenapa aku nggak dengerin kata-kata Kamu? Kalau aku dengerin Kamu pasti ini semua nggak akan terjadi,” teriak Edo dengan suara seraknya.
“Kenzie, aku mohon Kamu bangun. Aku janji aku akan berubah, aku akan nepati janji aku Zie,” Edo menatap gadis itu dengan penuh harap.
Air mata begitu deras mengalir di pipi Edo, berkali-kali dia memaki dirinya sendiri, dia merasakan penyesalan yang teramat besar. Kini gadis itu sudah pergi, pergi jauh meninggalkan dirinya, bahkan karena sudah teramat jauh kini dia sudah tidak bisa merengkuh gadis itu lagi. Dia pasti akan merindukan sinar mata sejuk itu, kata-kata yang begitu polos, dan nasehat-nasehat kecil yang selama ini selalu dia hiraukan begitu saja. Dia sadar bahwa setelah kehilangan, barulah terasa bahwa tidak semua orang seperti dia. Dan kini Edo berjanji, berjanji akan berubah, berubah untuk lebih baik. Dia ingin gadis itu selalu tersenyum di atas sana.

Selesai