Selasa, 20 Desember 2016

Masa Omelan Senior

          Masa Omelan Senior
               Karya : Zuliati

Aku bener bener nggak tega ngeliatin bayanganku sendiri di cermin, dari ujung kepala sampai telapak kaki paraaah banget. Rambutku dikuncir kuda pakai rafia, udah gitu masih pakai bandana dari pita, sama topi dari bola, make up ala ala badut, pakai kalung rafia dengan petai dan terong sebagai penggantian permata, nametag bertuliskan Zahra, juga kaos kaki warna kuning selutut dan warna merah di atas mata kaki menghiasi kedua kakiku.
Ya inilah aku, anak SMA baru yang akan mengikuti MOS atau Masa Orientasi Siswa yang katanya adalah kegiatan untuk menyambut kedatangan para peserta didik baru, sambutan yang luar binasa menurutku. MOS dijadikan sebagai ajang untuk melatih ketahanan mental, disiplin, dan mempererat tali persaudaraan itu teorinya, tapi faktanya malah menyulut api permusuhan dan mengajak mengibarkan bendera peperangan. Kebanyakan MOS digunakan oleh para senior untuk ajang balas dendam kesumat pada kakak kelasnya dulu yang ditimpakan kepada adik kelas yang nggak tahu apa apa, masih polos, masih lugu dan akulah saksi hidupnya. Hheeee. MOS adalah salah satu penyiksaan dan penganiayaan yang direncanakan. Tegaaaa...
Aku berjalan melewati koridor sekolah, hampir aku ngakak ngeliatin anak anak lain yang dandanannya super gokil, tapi setelah kupikir pikir ngapain ngetawain mereka, sama aja bunuh diri. Walaupun pandanganku lurus ke depan aku sadar banyak kakak kakak kelas yang menatapku aneh sambil senyum senyum nggak jelas. Hah bodo amat bodo amat, cuek aja toh dulu mereka juga kayak aku mungkin malah lebih parah, tetep positif thinking.
Priiiiiiiiiiiit..
Suara peluit panjang begitu nyaring terdengar, hanya hitungan detik seluruh siswa baru berkumpul di lapangan sekolah bak tentara bersenjata lengkap. Hal yang paling menyebalkan yaitu mendengarkan arahan arahan dari senior, kalau saja rambutku tidak dikuncir kuda, pasti aku sudah pasang headset dari tadi.
"Berdiri yang rapi, kakak kakak dari OSIS akan periksa kelengkapan dan kerapian kalian," kalimat terakhir dari OSIS dan hanya itu yang aku terima dari omongan panjang lebar sejak tadi.
Satu senior memakai seragam putih abu abu berdiri tepat dihadapanku, entah siapa namanya karena nametag di dadanya ditutupi dengan lakban hitam. Dia mengamati penampilanku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Senyumnya biasa aja," ucapnya tanpa ekspresi, aku hanya terdiam nggak tahu harus gimana.
"Siapa nama Lo?" tanya senior itu padaku.
"Zahra kak," jawabku polos, aku bingung ini beneran pertanyaan apa cuma jebakan, solnya udah jelas ada nametag kok masih nanya pikirku.
"Kalau diajak ngomong itu liat orangnya bukan ngeliat bawah," ucapnya lagi, emang tanpa bentakan tapi ngena banget. Aku paling nggak suka suasana kayak gini, tertekan. Aku langsung menatap kakak seniorku itu, beda, nggak kayak drama di TV yang kalau liat tatapan mata kakak senior langsung klepek klepek, kalau ini justru bikin enek.
"Ngeliatnya biasa aja," ucapnya lagi, oke oke.. Aku mulai percaya sama aturan MOS pasal 1 senior selalu benar pasal 2 jika senior salah balik lagi ke pasal 1, Taulah apa artinya! Junior selalu salah dan senior selalu benar.
"Tugas Lo yaitu dapetin tanda tangan gue! Tapi ada syaratnya. Lo harus nyari batu kerikil sebanyak 29 butir masukin ke toples ini, tambah air kran bukan air kolam apalagi air comberan, terus masukin ikan kesitu, gue kasih tahu jenis jenis ikan yang harus elo tangkep, cuma sekali nggak ada berita ulang, pertama ikan koi bukan ikan koki, ikan komet, ikan sapu sapu bukan sabu sabu, sama ikan molly, jangan beli diluar sekolah dan gue kasih waktu 1 jam, itu udah lebih dari cukup sih menurut gue, nah kalau udah selesai baru gue kasih tanda tangan," ucap kakak senior yang terhormat, aku cuma bisa melongo kayak orang bego.
"Ada pertanyaan? Gue rasa sih semua udah jelas jadi waktu Lo dimulai dari sekarang," ucap itu bocah, seperti baru dihipnotis aku langsung ngambil toples di tangan kakak itu dan pergi.
Kayaknya ini salah perintah deh, aku ngambil jurusan akuntansi kenapa disuruh nangkep ikan?? Paling enggak ngitung uang atau apalah. Parahnya lagi aku tuh nggak tahu jenis jenis ikan paling paling cuma tahu ikan lumba lumba, lele, louhan sama arwana doang.
"Permisi kak, mau tanya, kolam ada disebelah mana ya?" tanya ku sama kakak cowok yang pakai seragam putih abu abu, ogah tanya sama yang cewek soalnya senior cewek tuh lebih rempong, nyebelin, omongannya pedes, galak lagi.
"Kolam?," tanya kakak itu bingung, ya pastilah bingung yang lain pada nyari tanda tangan kok aku malah nyari kolam.
"Ini lurus aja, mentok, belok kiri, disitu ada kolam, dibelakang juga ada kolam sih, deket ruang guru juga ada, lantai 2 juga ada tapi ukurannya lumayan kecil, nah kamu nyari yang mana?" eeeehhhhhh buseeeet kolamnya banyak banget, waktunya cuma satu jam lagi, aduuuuuuh emaaaaaaaaaak.
"Nyari semua kak, makasih yah kak," ucapku langsung ngacir.
Oke... yang pertama dan paling utama aku harus nyari batu kerikil.
"Kurang kerjaan banget sih," celetuk cewek cewek yang lewat dekatku sambil cengar-cengir nggak jelas, bodo amat sih yang penting dapet batu kerikil.
Selanjutnya ngisi toples pakai air kran, mana kran? Mana kran? Mana kran????
Nah sekarang tinggal dedengkotnya nih, ikan!!!!!
Aku melihat jam yang melingkar dipergelabgan tanganku, baru 15 menit. Hah!? 15 menit?????? Tidaaak... Nggak pakai lama mikir soalnya ngehabisin waktu doang aku langsung nyebur ke kolam nggak peduli sepatu aku basah kuyup soalnya air kolam sampai selutut.
"Eh eh eh, ngapain kamu disitu,?? Naik naik naik, cepetan naik!" teriak bapak bapak sambil bawa sapu sama serok sampah yang bisa ditebak pasti tukang kebun disini.
"Pak, saya tuh disuruh nangkep ikan, kalau saya cuma nungguin ditepi kolam alias nggak nyebur ya kapan dapetnya pak," teriakku pada bapak itu, si bapak hanya manggut manggut.
"Pak ini namaya ikan apa?" tanya ku pada bapak tadi sambil menunjukkan satu ikan yang berhasil kutangkap.
"Itu ikan koi," jawab bapak itu singkat.
"Ikan koi? Serius?" tanyaku nggak percaya saking senengnya.
""Iya, soalnya setahu saya di kolam ini cuma ada 2 jenis ikan, ikan koi sama ikan koki," jawab si bapak.
"Hah? 2 doang???? Terus kalau ikan komet, sapu sapu, sama molly dimana dong pak?" tanyaku lagi.
"Waaah saya teh nggak tahu. Ya sudah saya mau kerja lagi," ucap bapak itu langsung pergi.
Buset dah nasib banget hampir semua kolam udah aku datengin tapi yang ada malah lele, ikan cupang, koi, koki, kecebong gak jelas, katak nyasar. Oh my god aku pengen pingsan saja kalau gini. Penampilan ku udah berantakan lagi, nggak cuma sepatu yang basah kuyup rok sama baju juga ikut basah soalnya tadi kepleset.
"Hei kamu ngapain basah basahan kayak gitu? Perasaan nggak ada ujan deh," tanya kakak kakak yang tadi ngasih tahu letak kolam kolam.
"Ini tuh perjuangan kak, nyari ikan nggak ketemu ketemu, waktunya udah mau abis lagi," gerutuku dengan suara serak nahan nangis.
"Ya ampun ngapain nyari ikan?" tanya kakak itu lagi.
"Disuruh kak, sama OSIS juga nggak tahu namanya pokoknya orangnya tuh nyebelin, ganteng enggak, putih enggak, kece enggak, manis enggak jelek iya, kak bantuin doooong," ucapku memelas.
"Emang harus nyari dikolam ya? Di akuarium boleh?" tanyanya lagi.
"Boleh kak, itu boleh kok, kayaknya sih, tapi bodi amat dah kak, msbg akuariunbya dimana kak?" tanyaku.
"kamu masuk aja ke ruang OSIS di sana ada aquarium kecil nah Cari aja di situ," ucap kakak itu aduh Tuhan ternyata ada aja kakak yang sebaeek ini.
"Yaudah makasih yah kak, besok kalau ketemu lagi aku janji deh aku bakalan teraktir Kakak," ucapku tersenyum.
Aku langsung tancap gas, untung kosong ini ruangan, langsung aku menuju akuarium kecil, ikannya banyak banget daripada kelamaan milih aku ambil semua. Bodo amat ini ikan punya siapa nggak peduli yang penting dapet tanda tangan.
Selesai urusan ikan, aku langsung nyari kakak yang gak punya perikemanusiaan itu. Tapi aku belum tahu siapa namanya lagi.
"Kak boleh nanya sebentar? bentaaar aja," ucapku pada salah satu senior yang lagi jalan santai, dia mengangguk.
"Kakak tau nggak nama kakak kelas OSIS yang tadi waktu di lapangan itu bawa buku, kayaknya sih novel bukan buku pelajaran terus di saku bajunya ada kacamata, orangnya lumayan tinggi, model rambutnya tiduran gitu deh, kakak tau nggak?" tanyaku mencoba mengingat-ingat padahal sebenarnya aku pengen lupain orang gak penting itu.
"Iya iya gue tau namanya Nando Nuraga," jawabnya ramah.
"Kira-kira dia ada di mana ya kak!" tanyaku bingung.
"Biasanya sih dia ada di perpus, kelas, ruang OSIS, ruang guru, lapangan basket, tapi coba dicari di atap dulu deh soalnya dia suka di tempat sepi sepi gitu kalau nggak ada tugas," lagi lagi aku melongo, buset dah ini orang ngapain pakai nongkrong di atap segala kayak kurang kerjaan aja kalau kesambet bisa langsung terjun dah itu bocah.
Dan lagi-lagi aku harus berlari entahlah kalau diakumulasikan mungkin udah 10 kiloan aku lari lari tanpa tujuan. Sampai di atap aku lihat ada seseorang yang lagi duduk-duduk sambil baca buku kayaknya ini yang aku cari.
"Kak," ucapku sambil senyum di paksakan.
Orang itu menoleh ke arahku, menutup bukunya melepas kacamata dan letakkan di sakunya.
"Ini kak," aku menyerahkan toples berisi ikan kepada Kak Nando namanya sih keren tapi orangnya judes.
"Apa ini?" tanya Kak Nando sambil berdiri entah apa kesalahanku kayak kayaknya sih mau ngamuk-ngamuk lagi.
"Itu ikan Kak," jawabku pelan.
"Iya gue tahu ini ikan, siapa bilang ini kebo sapi. Dapat dari mana?" tanyanya lagi kali ini lebih tegas, aku bener-bener pengen nangis tapi tidak... jangan... no no no... buat apa nangis cuma gara-gara cowok kayak gitu pikirku.
"Itu nggak beli di luar sekolah kok Kak, beneran aku gak bohong," ucapku menahan tangis.
"Oke fine, gue percaya lo nggak beli di luar sekolah, yang gue tanyain Lo dapet ini dari mana? lo ambil dari aquarium di meja pojokan ruang OSIS? lo ambil semua kan terus lo masukin ke sini?" tanyakan Nando, aku Jadi tambah pusing kenapa dia bisa tahu semuanya ya.
"Iya Kak, kok kakak bisa tahu?" tanyaku penasaran.
"Sebelum gue jawab gue mau nanya dulu, lo tau siapa gue?" tanya Kak Nando.
"Iya Kak nama kakak Nando Nuraga kan?" jawabku penuh percaya diri karena aku yakin kali ini aku benar.
"Ya,, tapi maksud gue bukan itu, lo tau posisi gue di OSIS jadi apa?" tanya Kak Nando aku cuma geleng-geleng.
"Okelah gue kasih tau sama lo, bener apa yang lo bilang tadi nama gue Nando Nuraga, posisi gue ketua OSIS dan meja di pojokan ruang OSIS itu meja gue, itu artinya lo ngambil ikan-ikan gue, percuma gue nyuruh lo nangkap ikan yang tujuannya buat tambahan koleksi gue kalau ternyata mengambil punya gue, sumpah gue nggak ngerti mau ngomong apa lagi sama lo," ucap kak Nando panjang lebar.
"Kak, tapi aku juga udah usaha nyari di kolam sampe basah kuyup gini," ucapku dengan mata berkaca kaca.
"Ya udah sini sini gue kasih tanda tangan tapi balikin ikan-ikan ini ke ruang OSIS," ucap Nando sambil memberi tanda tangan.
"Makasih kak," ucapku pelab entah harus senang apa bete, aku pun balik ke ruang OSIS mengembalikan ikan ikan yang tak berdosa itu.
Hari hari selanjutnya aku lewati dengan bahagia, kebetulan aku diterima jadi OSIS, jadi malah sering ketemu sama Kak Nando. Tapi ternyata kak Nando nggak seperti kesan pertama waktu aku kenal sama dia, emang sih terkesan cuek dibanding yang lain tapi sebenarnya dia baik kok, berwibawa pula, baik hati, nggak sombong, ramah, banyak yang naksir, temen sekelasku juga. Tapi dengar-dengar dia belum pengen pacaran, fokus sekolah dulu. Aaah perfect ya?? kalau ingat waktu MOS jadi suka senyum-senyum sendiri.
"Zahra, woy ngelamun mulu, roposalnya dilanjutin nanti aja, ke kantin dulu yuk," Kak Nando mengajakku ke kantin bareng? sebenarnya sih udah biasa, semenjak ada proker Baksos aku emang tambah akrab sama dia.
"Siap komandan," jawabku langsung mengekorinya.
Kisahku emang beda sama drama Korea atau FTV gitu yang endingnya pacaran, buktinya aku cuma berteman eh tapi siapa tau besok nya malah nikah,ha ha. Nggak nggak aku bersyukur kok bisa jadi teman sekaligus sahabatnya Kak Nando best friend forever together pokoknya.
                   Selesai

Hei hei kamu!!! Iya kamu!!
Follow ig ku ya@zuli29ati
Matur nuwun!!!

Minggu, 18 Desember 2016

Bunga Cinta

Bunga Cinta 

                        Karya : Zuliati


"Flower crown aku manaaaaa???" teriakku untuk yang kesekian kali, berharap benda cantik itu cepat ketemu.

"Mungkin di dalam tas, coba cari dulu!" Tami mencoba menghilangkan kepanikanku yang udah nggak ketulungan.

"Udah aku cari, tapi nggak ada" jawabku kesal sambil terus mengobrak abrik isi tasku.

"Rafriiiiii...... dari pada cuma main HP terus, mending cariin flower crown aku deh!!" omelku pada Rafri yang sibuk dengan HPnya. Bisa dipastikan kalau anak yang satu ini sedang chattingan sama cowok-cowok nggak jelas, nggak penting, dan nggak banget itu.


Namaku Lia, aku duduk di kelas 12, itu artinya sebentar lagi aku akan lulus dari bangku sekolahan (aamiin ya Allah). Hari ini aku dan temen satu kelasku ada acara foto buku tahunan sekolah (BTS). Persiapannya rempong banget, mana siang ini panas lagi, eh flower crown aku pakai ilang segala, padahal bentar lagi udah giliran kelompokku, nggak mungkin bangetkan kalau kelima temanku pakai flower crown sedangkan aku???? Nooooooooo.....

"Ayo siap-siap, bentar lagi giliran kitaaaaa!!" teriak Cahya sambil berlari-lari kecil, dia emang temenku yang paling pendiam tapi sekali buka mulut langsung menggemparkan bumi.

"Gimana nih???" tanyaku mulai frustasi.

"Mending kamu ngikutin itu deh, itu lho dongeng Sangkuriang Tangkuban Perahu. Barang siapa yang bisa menemukan flower crown kamu, kalau lak-laki jadi suami kalau perempuan jadi saudara kamu!!" ucap Anjar si maniak novel, hingga disaat seperti inipun masih sempet-sempetnya ngebahas hal kayak gitu. PLAAK

"Coba deh cari sekali lagi, tambah do'a yang banyak, yakin aja pasti ketemu kok" ucap Dama mencoba menenangkanku dengan sedikit tambahan nasihat yang tak pernah ketinggalan.

"Capek!!!!" jawabku benar-benar cuaapek.

Ya, ya, ya, jujur saja disaat-saat mencekam seperti ini aku memang suka banyakin ngomel-ngomel nggak jelas, minim do'a, jarang inget sama Sang Pencipta. Maafkan hambamu ini ya Tuhan!!

Akhirnya aku terdiam, bukan karena sudah melambaikan tangan sambil ngibarin bendera putih alias nyerah, tapi aku berniat untuk berdo'a menggabungkan saran Anjar dan Dama, siapa tahu bisa ketemu jodoh disini pikirku ngawur. Hehe

Crew kameramen datang, mereka adalah kakak-kakak kelasku dulu yang sekarang sudah duduk di bangku kuliahan.

"Udah siapkan?? Yo ambil posisi!!" teriak kak Angga.

"Bentar kaaaak" teriakku tak kalah keras, tapi benar-benar nggak ada niatan buat nantang kok. Ampun kak!!

"Kenapa?? Temanya belum jadi?? Udah dibahas sebelumnya kan????" tanya kak Angga lagi, emang sih pakai nada rendah tapi di saat seperti ini terasa sangat menusuk. JLEP

Oh My God ini anak satu kenapa sih senewen amat. Nggak tahu apa lagi bingung nyari flower crown juga. Huuh mentang-mentang situ sesepuh trus ngomongnya ngasal gitu? Tiba-tiba aja mood aku down, udah capek, kesel, tambah emosi yang membara.

"Ada properti yang ilang kak, bentar lagi ketemu kok" jawab Rafri santai, padahal batinku udah pengen makan itu orang.

"Nyari ini?" tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba ada di depanku, aku berhenti mengobrak abrik isi tasku, ada flower crown mirip punyaku atau tepatnya itu emang milikku ditangan orang itu, tiba-tiba aku inget kata-kata Anjar, jangan-jangan ini jodohku! Aduuuuh... Aku malah ketakutan nggak jelas. Pelan-pelan kuangkat kepalaku, kulihat wajah orang yang telah menemukan flower crownku. Kak Dion???? Aku menjerit dalam diam. Dia adalah kakak kelas paling kece saat aku masih kelas. 10 dulu. Kalau saran Anjar tadi bener bener jadi kenyataan, aku mau banget!! batinku sambil senyum senyum nggak jelas.

Eh tunggu deh... Tapi kok flower crown aku bisa sama kak Dion?? Jangan jangan ini orang maling lagi, ah nggak mungkin diatuh terlalu baik. Atau jangan jangan dia cuma pengen modus aja??? tapi mau modus sama siapa??? Sama aku? yang ada malah aku yang harusnya modusin itu orang!! PLAAK

"Nggak usah mikir macem macem, tadi waktu kamu lari flower crown kamu jatuh, yaudah aku ambil aja, ini" ucap kak Dion yang seakan-akan bisa membaca isi otakku. Aku terpaku mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya, bisa dipastikan kalau dia mikir aku ini orang aneh.

Acara foto-foto pun berlangsung, berbagai gaya udah dicoba, berbagai ekspresi dikeluarkan, berbagai properti digunakan, tapi tetep aja hasilnya nggak jelas.

"Itu kunci apaan??" tanya kak Angga yang sudah pasti ditujukan untukku, karena hanya aku yang pegang gitar.

"Nggak ngerti kak, udahlah cuma foto doang nggak bakalan ada yang ngeliat sedetail itu juga!!" jawabku ngasal, aku jadi mikir dosa apa sih aku sama itu orang? Gila omongannya pedes banget kayak cabe setan, tajem kayak pedang kerajaan.

Tiba-tiba kak Dion nyamperin aku, memegang jari-jariku dan mengarahkan ke senar gitar yang sudah siap untuk dipetik. 

"Ini namanya kunci C" ucapnya pelan namun terdengar begitu jelas di telingaku. Jelaaaaas banget.

"Makasih kak" ucapku antusias.

"Buat?" tanya kak Dion sambil menatapku, aku meleleh dibuatnya.

"Buat flower crown sama kunci C" ucapku tulus bener bener dari lubuk hati ku yang paliiiiiiiiiimg dalam.

"Sama sama" ucapnya singkat padat dengan senyuman mautnya.

Oh My God aku merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia hari ini, seneeeeeeeng banget rasanya.

BUGH

Aduuuuuh..... kepalaku pening seketika. Bagaimana tidak?? Tami menimpukku dengan kitab akuntansi yang selalu dibawanya akhir akhir ini karena sebentar lagi dia akan ikut LCC akuntansi tingkat provinsi.

"Senyam senyuuum terus!! Lagi bayangin kak Dion ya!?!" tanya Tami to The point.

"Tembak aja mumpung orangnya masih ada disini, tuuuuh!!!" timpal Rafri sambil menunjuk kearah kak Dion yang lagi ada di kelompok tiga.

"Iyaaap, siapa tahu bisa langsung jadian, dia baik kok" ucap Anjar mengamini.

"Laki laki yang baik itu nggak akan ngajak pacaran. Lagian pacaran itu kan nggak ada manfaatnya" ucap Dama serius.

"Apaan sih!? Siapa juga yang mau pacaran!!!!" omelku.

Tapi kalau sama kakak yang satu ini boleh juga sih, pikir ku. Eeets tidak, aku setuju sama Dama, pacaran nggak ada manfaatnya. Lagipula pemilik rusuk tidak akan pernah tertukar kok, hanya saja seberapa kemampuan kita menerimanya, siapapun pemiliknya dan dimana pun tempatnya.

Selesai



Terimakasih udah nyempetin mampir !!!

Jangan lupa comment !!

Following ig ku  ya di @zuli29ati 

Nuwun!!

Minggu, 03 April 2016

Playboy Insaf



Playboy Insaf
Karya : Zuliati


Banyak yang bilang kalau masa remaja itu adalah masa kejayaan. Bagaimana tidak? Remaja itu tidak bekerja, tapi semua kebutuhan sudah dicukupi, bisa jalan-jalan tiap hari, juga bisa kumpul bareng temen setiap saat dan setiap waktu. Tapi kesempatan itu banyak diselewengkan oleh remaja misalnya berfoya-foya, suka tawuran, dan balap liar.
Begitu pula yang terjadi pada si trouble maker SMA Nusa, 3 siswa yang terkenal brutal sudah berkali-kali mereka keluar masuk ruang BK bahkan sudah seperti kewajiban setiap minggunya hanya untuk mendapatkan petuah, wejangan, dan wanti-wanti dari para guru. Ya, walaupun mereka juga punya kelakuan yang kurang baik bahkan lebih cenderung buruk tapi karena wajah mereka yang bisa dibilang mendekati sempurna sehingga banyak sekali siswi yang pada ngantri, sehingga nggak heran kalau mereka bertiga sering ganti-ganti pacar.
Walaupun begitu bukan berarti semua siswi tunduk sama mereka. Karena faktanya ada seorang siswi yang dari dulu sulit ditaklukkan, namanya Kenzie. Dia memang berbeda dari yang lain, saat yang lain harus rela ngantri-ngantri dia malah masa bodoh dan terkesan tak peduli, ketika gadis itu didekati dia malah menghindar. Menurut Edo, Kenzie adalah spesies langka, mungkin satu-satunya di planet ini. Namun walaupun begitu dia tetap berusaha untuk mengejarnya, dia benar-benar penasaran. Sudah berkali-kali Edo berusaha mencuri perhatian gadis itu, berusaha bersikap bersahabat tapi Kenzie tetap acuh. Mungkin dia memang gadis aneh yang pernah Edo temui.
“Sampai kapan sih Kamu mau ngejar gadis itu?” Daza bertanya pada Edo untuk kesekian kali. Pertanyaan yang selalu dia lontarkan bila Edo terus mencoba mendekati Kenzie.
“Sudahlah Do, lagipula Kamu kan sudah tahu kalau Kamu itu bukan tipikal pria yang dia suka,” timpal Chaka.
“Ka soal aku ini selera dia atau bukan itu nggak penting, ingat pepatah Jawa Tresna iku jalaran saka kulina, jadi kalau aku deketin terus, lama kelamaan pasti juga dapet. Siapa tau seleranya masih bisa dinego,” jawab Edo ngasal.
“Ini bukan jual beli atau obralan yang bisa dinego Sob,” ucap Daza yang tak mau ambil pusing dengan sikap keras kepala Edo.
Namun seperti biasanya Edo tak menanggapi apa yang diucapkan kedua sohibnya itu, dia yakin kalau dia mampu, mampu untuk meluluhkan hati gadis es itu. Karena ada 1000 jalan untuk keluar dari suatu masalah. Bila ia gagal melewati satu jalan, pasti masih ada 999 jalan lagi. Yah walaupun dia nggak yakin akan mencobanya satu persatu, bisa-bisa sampai tahun 2200 juga nggak akan selesai.
***
“Aaargh,” Edo mendengus kesal sambil mengcak-acak rambutnya, selama beribu-ribu tahun dia menjalani hidupnya baru kali ini dia merasakan penolakan. Gilanya lagi penolakan ini bukan dari gadis yang dia cintai tapi hanya dari seorang gadis biasa. Dia nggak tahu kenapa tiba-tiba dia merasa sebodoh ini, bodoh karena tidak bisa berbuat apa-apa. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana jalan pikiran gadis itu. Jalan lurus kah? Jalan berliku? Atau jalan buntu? Bisa-bisanya gadis itu sama sekali tidak tertarik dengannya, siswa paling ngehits, paling popular, bahkan akhir-akhir ini lagi booming. Selain memiliki wajah yang sudah tidak diragukan lagi, Edo adalah ketua OSIS sekaligus kapten tim basket Nusa yang mempunyai prestasi membanggakan karena sudah berpuluh-puluh kali menyumbangkan piala untuk sekolahnya itu.
“Hai Sob,” Daza menepuk bahu Edo dan langsung duduk di sampingnya.
“Ketok pintu dulu kan bisa, kebiasaan banget,” ucap Edo dengan wajah kusem.
“Sensi banget sih, lagi dapet ya?” sindir Chaka.
“Laki-laki tulen nih,” jawab Edo sambil memperlihatkan otot-otot lengannya.
“Terus kenapa? Mikirin gadis kursi roda itu?” tebak Daza yang disambut dengan anggukan mantap Edo.
“Aku punya ide, gimana kalau akhir  semester ini kita ngadain acara liburan 1 kelas? Kan kamu bisa gunain kesempatan ini buat nembak Kenzie,” usul Daza.
“Boleh juga tuh, tapi kemana? Ke pantai udah biasa, ke danau udah nggak jaman, ke hutan serem,” ucap Edo bergidik ngeri membayangkan keadaan hutan yang identik dengan hal-hal yang menyeramkan.
“Naik gunung aja, ini satu-satunya kesempatan emas, kaki Kenzie kan sakit tuh, jadi kamu bisa bantuin dia Sob, modus dikit,” usul Daza sambil menaik turunkan alisnya, Edo Cuma bisa senyum-senyum membayangkan ide-ide buayanya nanti.
“Itu ide paling top yang pernah aku dengar, tambah serunya lagi lagi kita naik Gunung Krakatau,” usul Chaka ngasal.
“Gunung Krakatau? Kenapa nggak pilih Gunung Merapi, Gunung Bromo, Gunung Tambora, atau gunung lain yang lebih romantic,” tanya Edo dengan wajah polosnya.
“Ini nih kalau cowok mikirnya cetek banget, kan kamu tahu siapa yang mau kamu tembak nanti, seorang Mackenzie Adznia Fernanda, cewek yang udah beribu-ribu kali nolak kamu, jadi gini kalau misalnya lagi-lagi nasib kamu sama, kamu bisa langsung loncat ke laut Do, buat ngilangin tengsin,” ucap Chaka sambil ngakak.
* * *
Siang ini seperti biasanya Kenzie termenung di taman belakang sekolah, bukan karena dia tidak mempunyai teman, tapi karena setelah kecelakaan bulan yang lalu dia jadi lebih sering menghabiskan waktu senggangnya untuk menyendiri.
Masih segar di dalam ingatannya jurang-jurang dalam yang sangat menyeramkan, semak belukar yang mengerikan, batu-batu besar yang membiarkannya jatuh terpelanting tak berdaya, juga pohon-pohon raksasa yang menjadi saksi nyata kejadian naas itu. Air mata itu pun perlahan membasahi pipi Kenzie, matanya terpejam dan nafasnya tak terkendali mengingat kejadian itu. Kejadian yang menyebabkan dia harus menjalani hari-harinya di kursi roda, dan memaksanya untuk mengubur dalam-dalam impiannya selama ini.
Tiba-tiba gadis itu dikejutkan dengan kehadiran seseorang, seseorang yang akhir-akhir ini mengusik kehidupannya. Bukan karena diteror atau ditodong senjata api, tetapi entah mengapa orang itu selalu berusaha untuk mendekatinya. Cepat-cepat ia menghapus air mata itu, dia tidak mau ada orang lain yang melihatnya menagis, dia tidak mau dianggap lemah.
“Hai,” sapa Edo dengan senyuman mengembang dibibirnya, namun Kenzie sama sekali tidak memberi respon sedikitpun, matanya tetap menerawang jauh.
“Hm, bisa kita bicara berdua?” tanya Edo yang berusaha mencairkan suasana, Kenzie pun mendongakkan kepalanya kearah samping untuk melihat wajah Edo, lalu buru-buru ia mengalihkan pandangannya lagi tanpa mengucap sepatah kata pun.
“Oke, aku minta maaf kalau aku udah ganggu Kamu, tapi aku cuma mau ngasih tahu Kamu kalau aku, Daza, sama Chaka mau ngadain acara liburan ke villa milik keluarga Daza. Acara ini untuk 1 kelas, jadi aku harap Kamu ikut berpartisipasi dalam acara ini,” ucap Edo penuh harap.
Ya, setelah perundingan tertutup yang dilakukan di rumah Edo kemarin, akhirnya mereka memutuskan untuk liburan ke villa milik keluarga Daza,
“Aku nggak bisa,” jawab Kenzie singkat.
“Kenapa? Kita bisa sama-sama cari suasana baru, supaya pikiran fresh dan seger,” ucap Edo tenang.
“Maksud kamu tuh apa sih? Kamu mau ngeledek aku? Inget ya kalau mau ngomong itu dipikir dulu. Karena nggak semua orang memahami apa yang kita maksud,” ucap Kenzie tegas sambil bersiap pergi meninggalkan Edo, tapi tenaganya kalah kuat karena Edo sudah menahannya terlebih dahulu.
“Oke aku minta maaf, tapi aku benar-benar nggak ada maksud apa-apa, aku cuma pengen Kamu ikut acara ini, itu aja,” Edo benar-benar merasa nggak enak.
“Aku sudah bilang, aku nggak bisa, cara hidup aku sudah berubah, Kamu liat kan kaki aku? aku cuma akan bikin repot kalian aja. Nggak bisa kesana nggak bisa ke sini, harus minta bantuan sana minta bantuan sini, gerakan aku sangat terbatas.” Ucap Kenzie.
“Zie perubahan itu memang tidak selalu menyenangkan, kadang menyakitkan dan sulit diterima. Tapi aku janji, aku akan bantuin kamu,” ucap Edo tulus.
“Apa? Janji? Jangan ngucapin janji jika kamu nggak bisa menepati, karena hal itu hanya akan membuat seseorang terluka dan sakit hati,” ucap Kenzie sambil tersenyum sinis, dia teringat kedua sahabatnya yang menjadi korban Edo.
“Zie, kenapa sih Kamu itu benci banget sama aku? Aku salah apa sama Kamu,” tanya Edo yang benar-benar dibuat pusing.
“Kamu pasti tahu apa alasan aku,” Kenzie langsung pergi meninggalkan Edo.
Marah, kesal, jengkel, semua jadi satu, Edo benar-benar nggak tahu kenapa tiba-tiba dia menjadi serba salah gini. Perasaannya benar-benar aneh, sebelum-sebelumnya dia tak pernah merasakan hal segila ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa gadis itu selalu membayang-bayanginya. Apakah dia merasa kasihan dengan keadaan Kenzie? Tidak! Itu tidak mungkin, untuk apa dia mengasihani gadis itu. Lalu apakah ini cinta? Huft, kenapa tiba-tiba dia terpikir akan cinta, bahkan sampai setua ini Edo tidak tahu apa arti cinta yang sesungguhnya. Apa benar pada saat kita menemukan cinta pertama, yang biasanya tampak adalah adanya sedikit kebodohan dan muncul keingintahuan?
* * *
Matahari sudah bangun dan mulai mengintip bumi. Begitu pula dengan Edo yang tersenyum mantap sambil mengemudikan mobilnya menuju rumah Daza. Dan betapa girangnya dia saat melihat Kenzie ada diantara teman-temannya yang lain. Edo jadi teringat perjuangannya 2 hari yang lalu saat memohon-mohon pada teman-temannya untuk ngebujuk Kenzie agar mau ikut acara ini. Karena dia tahu berapa kalipun dia membujuk, pasti hasilnya akan nihil.
Beruntung! Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan Edo saat ini. Bagaimana tidak? Akhirnya dia bisa 1 mobil dengan gadis idamannya itu, karena teman-teman yang lain sudah berangkat dengan mobil masing-masing. Sejak kejadian beberapa hari yang lalu juga hasil observasi yang dia lakukan pada kakaknya, mama, papa, nenek, kakek, paman, tante, sohib, dan hasil searching di internet, akhirnya Edo menarik kesimpulan bahwa dia benar-benar jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.
Tanpa tersadar Edo tersenyum melihat gadis yang sedang melihat gunung yang jauh di sana lewat kaca mobil. Sejak tadi dia memang selalu curi-curi pandang lewat kaca depan. Dia merasa tenang dan nyaman melihat sinar mata sejuk itu. Tanpa sengaja pandangan mereka beradu, tapi buru-buru gadis itu segera mengalihkan pandangannya untuk melihat panorama indah ciptaan Tuhan. Keadaan di dalam mobil sunyi, semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Namun berubah seketika saat mobil melewati jalan berliku dengan tikungan tajam, apalagi jalannya terkesan sepi tanpa ada kendaraan yang lalu lalang, menambah kesan horor. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan segerombolan geng motor yang melaju dari arah berlawanan, sehingga memaksa Edo untuk menghentikan mobilnya.
“Kalian bertiga tunggu di sini, biar aku, Daza, sama Chaka yang hadepin mereka,” ucap Edo kepada Kenzie dan si kembar Zelda dan Melda.
“Kamu gila? Kalian cuma bertiga, sedangkan mereka hampir 10 orang, kalian nggak punya kekuatan super, kalian nggak bisa berubah jadi harimau, serigala, atau singa yang bisa buat musuh kewalahan, mustahil kalian bisa kembali utuh,” ucap Kenzie dengan nada cemas.
“Kita semua sudah kepalang tanggung, satu-satunya cara yang bisa dilakukan ya cuma ngeladenin mereka,” ucap Daza.
“Satu-satunya cara? Kita masih bisa puter balik kan? Itu lebih aman buat kita,” tegas Kenzie.
“Itu nggak mungkin, mereka bisa ngejudge kita pecundang, nggak gentle. Kamu tahukan kita ini cowok, nggak mungkin mundur gitu aja,” ucap Edo keras kepala.
Gentle? Apa kegentlean seorang pria itu cuma diukur dari kemampuanya buat berkelahi dan tawuran? Inget Do menyesal itu selalu di belakang, bila sesuatu sudah terjadi kita nggak bisa kembali ke masa lalu walaupun sedetik saja, jangan lewatkan saat terindah hanya untuk hal-hal sepele yang nggak penting,” Kenzie tak tahu kenapa bisa-bisanya dia mengucapkan kata-kata seperti itu, Edo pun merasa ada sesuatu di balik ucapan Kenzie, tapi egonya lebih besar sehingga dia memilih meladeni geng motor itu.
Kenzie benar-benar cemas, perasaannya nggak tenang. Tapi akhirnya dia bisa keluar dari mobil setelah membujuk kedua sahabatnya itu, kini dia bisa keluar dari mobil setelah membujuk kedua sahabatnya itu, dia bisa melihat dengan jelas kalau Edo dan kawan-kawan sudah KO, seandainya ini adalah perlombaan bela diri mungkin peluit sudah ditiup wasit dari tadi. Tak sampai hati dia melihat Edo yang tersiksa seperti itu.
“Zie Kamu jangan kesana,” teriak Zelda saat Kenzie mendekati Edo, dia tak bisa membiarkan pria yang sudah tak berdaya itu terus-terusan mendapat bogem mentah dari 3 orang gila itu.
“Edo awas,” teriak Kenzie saat melihat salah satu anggota geng motor itu hendak melayangkan benda tumpul ke arah kepala Edo.
Dugh
Satu pukulan saja sudah mampu membuat gadis itu jatuh tersungkur ke tanah, kursi rodanya mengguling entah kemana. Darah segar keluar dari telinganya, buru-buru geng motor itu segera melarikan diri.
“Kenzie,” teriak Edo histeris, tak kuasa dia melihat gadis itu terkulai lemah di depan mata kepalanya sendiri, tanpa sadar dia meneteskan air matanya, di mana ini adalah awal sejarah dia menangis untuk seorang gadis yang bukan keluarganya.
“Do, lebih baik kita bawa Kenzie ke rumah sakit sekarang,” ucap Chaka, Edo mengangguk dan segera membopong tubuh tak berdaya itu.
* * *
Hampir 1,5 jam mereka menunggui Kenzie yang sedang ditangani dokter di ruang ICU. Tangis Edo sudah pecah dari tadi, berkali-kali dia memukul dinding untuk melampiskan amarahnya. Dadanya sesak bergemuruh, dia takut akan terjadi sesuatu hal fatal
“Aargh,” ini adalah pukulan kesekian kali, dia tak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Perasaannya benar-benar kalut.
Akhirnya dokter itu keluar dari ruang ICU, beliau memberi tahu keadaan pasiennya saat ini.
“Apa,” Zelda dan Melda tak kuasa mendengar berita itu.
Cepat-cepat Edo berlari menghampiri gadis yang selama ini selalu mengisi pikirannya. Namun kini gadus itu sudak tergolek tak bernyawa di atas ranjang rumah sakit. Tak ada sepatah katapun yang bisa Edo ucapkan selain menggenggam jari jemari gadis itu. Terngiang jelas ucapan gadis itu beberapa jam yang lalu.
“Inget Do, menyesal itu selalu di belakangan, bila sesuatu terjadi kita nggak bisa kembali ke masa lalu walaupun sedetik saja, jangan lewatkan saat-saat terindah hanya untuk hal-hal sepele yang nggak penting,”
“Bodoh, kenapa aku nggak dengerin kata-kata Kamu? Kalau aku dengerin Kamu pasti ini semua nggak akan terjadi,” teriak Edo dengan suara seraknya.
“Kenzie, aku mohon Kamu bangun. Aku janji aku akan berubah, aku akan nepati janji aku Zie,” Edo menatap gadis itu dengan penuh harap.
Air mata begitu deras mengalir di pipi Edo, berkali-kali dia memaki dirinya sendiri, dia merasakan penyesalan yang teramat besar. Kini gadis itu sudah pergi, pergi jauh meninggalkan dirinya, bahkan karena sudah teramat jauh kini dia sudah tidak bisa merengkuh gadis itu lagi. Dia pasti akan merindukan sinar mata sejuk itu, kata-kata yang begitu polos, dan nasehat-nasehat kecil yang selama ini selalu dia hiraukan begitu saja. Dia sadar bahwa setelah kehilangan, barulah terasa bahwa tidak semua orang seperti dia. Dan kini Edo berjanji, berjanji akan berubah, berubah untuk lebih baik. Dia ingin gadis itu selalu tersenyum di atas sana.

Selesai