Selasa, 20 Desember 2016

Masa Omelan Senior

          Masa Omelan Senior
               Karya : Zuliati

Aku bener bener nggak tega ngeliatin bayanganku sendiri di cermin, dari ujung kepala sampai telapak kaki paraaah banget. Rambutku dikuncir kuda pakai rafia, udah gitu masih pakai bandana dari pita, sama topi dari bola, make up ala ala badut, pakai kalung rafia dengan petai dan terong sebagai penggantian permata, nametag bertuliskan Zahra, juga kaos kaki warna kuning selutut dan warna merah di atas mata kaki menghiasi kedua kakiku.
Ya inilah aku, anak SMA baru yang akan mengikuti MOS atau Masa Orientasi Siswa yang katanya adalah kegiatan untuk menyambut kedatangan para peserta didik baru, sambutan yang luar binasa menurutku. MOS dijadikan sebagai ajang untuk melatih ketahanan mental, disiplin, dan mempererat tali persaudaraan itu teorinya, tapi faktanya malah menyulut api permusuhan dan mengajak mengibarkan bendera peperangan. Kebanyakan MOS digunakan oleh para senior untuk ajang balas dendam kesumat pada kakak kelasnya dulu yang ditimpakan kepada adik kelas yang nggak tahu apa apa, masih polos, masih lugu dan akulah saksi hidupnya. Hheeee. MOS adalah salah satu penyiksaan dan penganiayaan yang direncanakan. Tegaaaa...
Aku berjalan melewati koridor sekolah, hampir aku ngakak ngeliatin anak anak lain yang dandanannya super gokil, tapi setelah kupikir pikir ngapain ngetawain mereka, sama aja bunuh diri. Walaupun pandanganku lurus ke depan aku sadar banyak kakak kakak kelas yang menatapku aneh sambil senyum senyum nggak jelas. Hah bodo amat bodo amat, cuek aja toh dulu mereka juga kayak aku mungkin malah lebih parah, tetep positif thinking.
Priiiiiiiiiiiit..
Suara peluit panjang begitu nyaring terdengar, hanya hitungan detik seluruh siswa baru berkumpul di lapangan sekolah bak tentara bersenjata lengkap. Hal yang paling menyebalkan yaitu mendengarkan arahan arahan dari senior, kalau saja rambutku tidak dikuncir kuda, pasti aku sudah pasang headset dari tadi.
"Berdiri yang rapi, kakak kakak dari OSIS akan periksa kelengkapan dan kerapian kalian," kalimat terakhir dari OSIS dan hanya itu yang aku terima dari omongan panjang lebar sejak tadi.
Satu senior memakai seragam putih abu abu berdiri tepat dihadapanku, entah siapa namanya karena nametag di dadanya ditutupi dengan lakban hitam. Dia mengamati penampilanku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Senyumnya biasa aja," ucapnya tanpa ekspresi, aku hanya terdiam nggak tahu harus gimana.
"Siapa nama Lo?" tanya senior itu padaku.
"Zahra kak," jawabku polos, aku bingung ini beneran pertanyaan apa cuma jebakan, solnya udah jelas ada nametag kok masih nanya pikirku.
"Kalau diajak ngomong itu liat orangnya bukan ngeliat bawah," ucapnya lagi, emang tanpa bentakan tapi ngena banget. Aku paling nggak suka suasana kayak gini, tertekan. Aku langsung menatap kakak seniorku itu, beda, nggak kayak drama di TV yang kalau liat tatapan mata kakak senior langsung klepek klepek, kalau ini justru bikin enek.
"Ngeliatnya biasa aja," ucapnya lagi, oke oke.. Aku mulai percaya sama aturan MOS pasal 1 senior selalu benar pasal 2 jika senior salah balik lagi ke pasal 1, Taulah apa artinya! Junior selalu salah dan senior selalu benar.
"Tugas Lo yaitu dapetin tanda tangan gue! Tapi ada syaratnya. Lo harus nyari batu kerikil sebanyak 29 butir masukin ke toples ini, tambah air kran bukan air kolam apalagi air comberan, terus masukin ikan kesitu, gue kasih tahu jenis jenis ikan yang harus elo tangkep, cuma sekali nggak ada berita ulang, pertama ikan koi bukan ikan koki, ikan komet, ikan sapu sapu bukan sabu sabu, sama ikan molly, jangan beli diluar sekolah dan gue kasih waktu 1 jam, itu udah lebih dari cukup sih menurut gue, nah kalau udah selesai baru gue kasih tanda tangan," ucap kakak senior yang terhormat, aku cuma bisa melongo kayak orang bego.
"Ada pertanyaan? Gue rasa sih semua udah jelas jadi waktu Lo dimulai dari sekarang," ucap itu bocah, seperti baru dihipnotis aku langsung ngambil toples di tangan kakak itu dan pergi.
Kayaknya ini salah perintah deh, aku ngambil jurusan akuntansi kenapa disuruh nangkep ikan?? Paling enggak ngitung uang atau apalah. Parahnya lagi aku tuh nggak tahu jenis jenis ikan paling paling cuma tahu ikan lumba lumba, lele, louhan sama arwana doang.
"Permisi kak, mau tanya, kolam ada disebelah mana ya?" tanya ku sama kakak cowok yang pakai seragam putih abu abu, ogah tanya sama yang cewek soalnya senior cewek tuh lebih rempong, nyebelin, omongannya pedes, galak lagi.
"Kolam?," tanya kakak itu bingung, ya pastilah bingung yang lain pada nyari tanda tangan kok aku malah nyari kolam.
"Ini lurus aja, mentok, belok kiri, disitu ada kolam, dibelakang juga ada kolam sih, deket ruang guru juga ada, lantai 2 juga ada tapi ukurannya lumayan kecil, nah kamu nyari yang mana?" eeeehhhhhh buseeeet kolamnya banyak banget, waktunya cuma satu jam lagi, aduuuuuuh emaaaaaaaaaak.
"Nyari semua kak, makasih yah kak," ucapku langsung ngacir.
Oke... yang pertama dan paling utama aku harus nyari batu kerikil.
"Kurang kerjaan banget sih," celetuk cewek cewek yang lewat dekatku sambil cengar-cengir nggak jelas, bodo amat sih yang penting dapet batu kerikil.
Selanjutnya ngisi toples pakai air kran, mana kran? Mana kran? Mana kran????
Nah sekarang tinggal dedengkotnya nih, ikan!!!!!
Aku melihat jam yang melingkar dipergelabgan tanganku, baru 15 menit. Hah!? 15 menit?????? Tidaaak... Nggak pakai lama mikir soalnya ngehabisin waktu doang aku langsung nyebur ke kolam nggak peduli sepatu aku basah kuyup soalnya air kolam sampai selutut.
"Eh eh eh, ngapain kamu disitu,?? Naik naik naik, cepetan naik!" teriak bapak bapak sambil bawa sapu sama serok sampah yang bisa ditebak pasti tukang kebun disini.
"Pak, saya tuh disuruh nangkep ikan, kalau saya cuma nungguin ditepi kolam alias nggak nyebur ya kapan dapetnya pak," teriakku pada bapak itu, si bapak hanya manggut manggut.
"Pak ini namaya ikan apa?" tanya ku pada bapak tadi sambil menunjukkan satu ikan yang berhasil kutangkap.
"Itu ikan koi," jawab bapak itu singkat.
"Ikan koi? Serius?" tanyaku nggak percaya saking senengnya.
""Iya, soalnya setahu saya di kolam ini cuma ada 2 jenis ikan, ikan koi sama ikan koki," jawab si bapak.
"Hah? 2 doang???? Terus kalau ikan komet, sapu sapu, sama molly dimana dong pak?" tanyaku lagi.
"Waaah saya teh nggak tahu. Ya sudah saya mau kerja lagi," ucap bapak itu langsung pergi.
Buset dah nasib banget hampir semua kolam udah aku datengin tapi yang ada malah lele, ikan cupang, koi, koki, kecebong gak jelas, katak nyasar. Oh my god aku pengen pingsan saja kalau gini. Penampilan ku udah berantakan lagi, nggak cuma sepatu yang basah kuyup rok sama baju juga ikut basah soalnya tadi kepleset.
"Hei kamu ngapain basah basahan kayak gitu? Perasaan nggak ada ujan deh," tanya kakak kakak yang tadi ngasih tahu letak kolam kolam.
"Ini tuh perjuangan kak, nyari ikan nggak ketemu ketemu, waktunya udah mau abis lagi," gerutuku dengan suara serak nahan nangis.
"Ya ampun ngapain nyari ikan?" tanya kakak itu lagi.
"Disuruh kak, sama OSIS juga nggak tahu namanya pokoknya orangnya tuh nyebelin, ganteng enggak, putih enggak, kece enggak, manis enggak jelek iya, kak bantuin doooong," ucapku memelas.
"Emang harus nyari dikolam ya? Di akuarium boleh?" tanyanya lagi.
"Boleh kak, itu boleh kok, kayaknya sih, tapi bodi amat dah kak, msbg akuariunbya dimana kak?" tanyaku.
"kamu masuk aja ke ruang OSIS di sana ada aquarium kecil nah Cari aja di situ," ucap kakak itu aduh Tuhan ternyata ada aja kakak yang sebaeek ini.
"Yaudah makasih yah kak, besok kalau ketemu lagi aku janji deh aku bakalan teraktir Kakak," ucapku tersenyum.
Aku langsung tancap gas, untung kosong ini ruangan, langsung aku menuju akuarium kecil, ikannya banyak banget daripada kelamaan milih aku ambil semua. Bodo amat ini ikan punya siapa nggak peduli yang penting dapet tanda tangan.
Selesai urusan ikan, aku langsung nyari kakak yang gak punya perikemanusiaan itu. Tapi aku belum tahu siapa namanya lagi.
"Kak boleh nanya sebentar? bentaaar aja," ucapku pada salah satu senior yang lagi jalan santai, dia mengangguk.
"Kakak tau nggak nama kakak kelas OSIS yang tadi waktu di lapangan itu bawa buku, kayaknya sih novel bukan buku pelajaran terus di saku bajunya ada kacamata, orangnya lumayan tinggi, model rambutnya tiduran gitu deh, kakak tau nggak?" tanyaku mencoba mengingat-ingat padahal sebenarnya aku pengen lupain orang gak penting itu.
"Iya iya gue tau namanya Nando Nuraga," jawabnya ramah.
"Kira-kira dia ada di mana ya kak!" tanyaku bingung.
"Biasanya sih dia ada di perpus, kelas, ruang OSIS, ruang guru, lapangan basket, tapi coba dicari di atap dulu deh soalnya dia suka di tempat sepi sepi gitu kalau nggak ada tugas," lagi lagi aku melongo, buset dah ini orang ngapain pakai nongkrong di atap segala kayak kurang kerjaan aja kalau kesambet bisa langsung terjun dah itu bocah.
Dan lagi-lagi aku harus berlari entahlah kalau diakumulasikan mungkin udah 10 kiloan aku lari lari tanpa tujuan. Sampai di atap aku lihat ada seseorang yang lagi duduk-duduk sambil baca buku kayaknya ini yang aku cari.
"Kak," ucapku sambil senyum di paksakan.
Orang itu menoleh ke arahku, menutup bukunya melepas kacamata dan letakkan di sakunya.
"Ini kak," aku menyerahkan toples berisi ikan kepada Kak Nando namanya sih keren tapi orangnya judes.
"Apa ini?" tanya Kak Nando sambil berdiri entah apa kesalahanku kayak kayaknya sih mau ngamuk-ngamuk lagi.
"Itu ikan Kak," jawabku pelan.
"Iya gue tahu ini ikan, siapa bilang ini kebo sapi. Dapat dari mana?" tanyanya lagi kali ini lebih tegas, aku bener-bener pengen nangis tapi tidak... jangan... no no no... buat apa nangis cuma gara-gara cowok kayak gitu pikirku.
"Itu nggak beli di luar sekolah kok Kak, beneran aku gak bohong," ucapku menahan tangis.
"Oke fine, gue percaya lo nggak beli di luar sekolah, yang gue tanyain Lo dapet ini dari mana? lo ambil dari aquarium di meja pojokan ruang OSIS? lo ambil semua kan terus lo masukin ke sini?" tanyakan Nando, aku Jadi tambah pusing kenapa dia bisa tahu semuanya ya.
"Iya Kak, kok kakak bisa tahu?" tanyaku penasaran.
"Sebelum gue jawab gue mau nanya dulu, lo tau siapa gue?" tanya Kak Nando.
"Iya Kak nama kakak Nando Nuraga kan?" jawabku penuh percaya diri karena aku yakin kali ini aku benar.
"Ya,, tapi maksud gue bukan itu, lo tau posisi gue di OSIS jadi apa?" tanya Kak Nando aku cuma geleng-geleng.
"Okelah gue kasih tau sama lo, bener apa yang lo bilang tadi nama gue Nando Nuraga, posisi gue ketua OSIS dan meja di pojokan ruang OSIS itu meja gue, itu artinya lo ngambil ikan-ikan gue, percuma gue nyuruh lo nangkap ikan yang tujuannya buat tambahan koleksi gue kalau ternyata mengambil punya gue, sumpah gue nggak ngerti mau ngomong apa lagi sama lo," ucap kak Nando panjang lebar.
"Kak, tapi aku juga udah usaha nyari di kolam sampe basah kuyup gini," ucapku dengan mata berkaca kaca.
"Ya udah sini sini gue kasih tanda tangan tapi balikin ikan-ikan ini ke ruang OSIS," ucap Nando sambil memberi tanda tangan.
"Makasih kak," ucapku pelab entah harus senang apa bete, aku pun balik ke ruang OSIS mengembalikan ikan ikan yang tak berdosa itu.
Hari hari selanjutnya aku lewati dengan bahagia, kebetulan aku diterima jadi OSIS, jadi malah sering ketemu sama Kak Nando. Tapi ternyata kak Nando nggak seperti kesan pertama waktu aku kenal sama dia, emang sih terkesan cuek dibanding yang lain tapi sebenarnya dia baik kok, berwibawa pula, baik hati, nggak sombong, ramah, banyak yang naksir, temen sekelasku juga. Tapi dengar-dengar dia belum pengen pacaran, fokus sekolah dulu. Aaah perfect ya?? kalau ingat waktu MOS jadi suka senyum-senyum sendiri.
"Zahra, woy ngelamun mulu, roposalnya dilanjutin nanti aja, ke kantin dulu yuk," Kak Nando mengajakku ke kantin bareng? sebenarnya sih udah biasa, semenjak ada proker Baksos aku emang tambah akrab sama dia.
"Siap komandan," jawabku langsung mengekorinya.
Kisahku emang beda sama drama Korea atau FTV gitu yang endingnya pacaran, buktinya aku cuma berteman eh tapi siapa tau besok nya malah nikah,ha ha. Nggak nggak aku bersyukur kok bisa jadi teman sekaligus sahabatnya Kak Nando best friend forever together pokoknya.
                   Selesai

Hei hei kamu!!! Iya kamu!!
Follow ig ku ya@zuli29ati
Matur nuwun!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar